Tragedi di Puncak Dukono: Erupsi Dadakan Tewaskan 2 WNA Singapura, 3 Pendaki Masih Hilang
HALMAHERA UTARA – Suasana mencekam menyelimuti lereng Gunung Dukono, Jumat pagi 8 Mei 2026. Erupsi eksplosif yang terjadi tiba-tiba pada pukul 07.41 WIT menjebak 20 pendaki yang sedang berada di jalur pendakian. Hingga malam ini, operasi evakuasi besar-besaran masih berlangsung di tengah ancaman abu vulkanik dan erupsi susulan.
Kronologi Erupsi
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Dukono, letusan terjadi tanpa diawali gempa vulkanik signifikan yang terasa di pemukiman. Kolom abu kelabu pekat teramati membubung hingga lebih dari 3.000 meter dari puncak kawah, disertai suara gemuruh yang terdengar hingga radius 5 km.
Hujan abu tipis dilaporkan turun di Desa Mamuya dan beberapa desa di Kecamatan Galela dalam 30 menit pertama pasca-erupsi. Kondisi ini menyebabkan jarak pandang di jalur pendakian menurun drastis, menjadi faktor utama terjebaknya para pendaki.
Data Korban: Duka Mendalam untuk Turis Asing
Kepala Kantor SAR Ternate, M. Arafah, dalam keterangan pers pukul 18.00 WIT mengonfirmasi data sementara jumlah pendaki yang terdampak:
null
Kedua jenazah korban WNA telah berhasil dievakuasi tim ke RSUD Tobelo untuk proses identifikasi lanjutan dan koordinasi dengan Kedutaan Besar Singapura di Jakarta.
Operasi SAR: Berpacu dengan Waktu dan Abu
Total 37 personel gabungan dikerahkan sejak pukul 09.00 WIT. Tim dibagi menjadi 3 SRU untuk menyisir jalur pendakian utama, jalur air terjun, dan lereng timur.
“Kendala utama adalah abu tebal yang masih beterbangan dan jarak pandang terbatas. Kami juga mewaspadai erupsi susulan karena seismograf masih menunjukkan tremor menerus,” ujar Komandan Tim Basarnas Ternate di lokasi.
Unsur yang Terlibat:
Basarnas Ternate: 4 personel dengan peralatan high angle rescue
Polres Halmahera Utara: 7 personel, fokus pengamanan jalur
BPBD Halmahera Utara: 3 personel, dukungan logistik dan medis
TNI Kodim 1508/Tobelo: 3 personel
Relawan & Pemandu Lokal: 20 orang, paling paham medan
Profil Gunung Dukono: Si 'Raksasa' yang Tak Pernah Tidur
Gunung Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Sejak tahun 1933, gunung setinggi 1.335 mdpl ini tercatat erupsi terus-menerus dalam skala strombolian. PVMBG menetapkan status Dukono di Level II Waspada sejak 2014, dengan rekomendasi radius bahaya 3 km dari kawah Malupang Warirang.
Meski berbahaya, pesona kaldera dan pemandangan Halmahera dari puncak membuat Dukono jadi tujuan favorit pendaki. Dugaan sementara, para pendaki ini masuk tanpa melapor ke pos dan mengabaikan imbauan penutupan jalur.
Imbauan Keras dan Evaluasi Pendakian
Bupati Halmahera Utara telah menginstruksikan penutupan total seluruh jalur pendakian Gunung Dukono hingga batas waktu yang belum ditentukan.
“Kami tegaskan kembali, jangan ada yang nekat mendekati kawah dalam radius 3 km. Aktivitas vulkanik masih sangat tinggi dan membahayakan jiwa,” tegas Kepala BPBD Halmahera Utara, Abdurrahman Yusuf.
Pihak berwenang akan mengevaluasi sistem perizinan pendakian dan memperkuat sosialisasi bahaya gunung api aktif ke komunitas pencinta alam. Operasi SAR akan dilanjutkan besok pagi dengan penambahan personel jika cuaca mendukung.
Penulis : Redaksi
Related Articles